TASIKMALAYA, KALCERAN.ID — Kopi Bunar dari Kampung Bunihurip kini menjadi primadona baru Kabupaten Tasikmalaya. Tak main-main, kopi lokal ini sukses menyabet gelar juara nasional dan mulai merambah pasar ekspor Jepang.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, meninjau langsung pusat budidaya kopi ini pada Jumat (15/05/2026). Ia mengapresiasi kemandirian ekonomi yang dibangun warga setempat.
“Kampung kecil ini mampu membuat sejarah. Kopi Bunar jadi yang paling berkualitas dan juara se-Indonesia,” ujar Asep.
Asep menyoroti lompatan harga kopi yang drastis. Dulu, petani hanya bisa menjual kopi di bawah Rp5.000 per kilogram.
Kini, berkat pengorganisasian yang baik, harga kopi stabil di atas Rp10.000. Hal ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani lokal.
“Jika dikelola secara benar, hasilnya nyata. Sekarang Kopi Bunar dipercaya lembaga besar seperti Bank Indonesia dan Perhutani,” tambahnya.
Kopi Bunar tidak hanya menjual hasil panen. Kawasan ini kini bertransformasi menjadi pusat edukasi atau Agro-Eduwisata.
Berbagai kampus besar seperti IPB, Unsil, hingga universitas dari Bogor rutin mengirim mahasiswa untuk magang. Bahkan, mitra dari Jepang berencana datang langsung untuk belajar budidaya.
“Kami menjual bibit unggul hingga produk siap seduh. Jadi, pengelolaannya sudah dari hulu ke hilir,” ungkap perwakilan petani.
Wakil Bupati Asep Sopari berkomitmen mendukung penuh legalitas lahan petani. Sertifikasi lahan menjadi prioritas agar bantuan fasilitas pemerintah bisa segera masuk.
Program ini diharapkan menjadi motor penggerak visi “Satu Desa Satu Devisa” di Kabupaten Tasikmalaya.
“Cicing di lembur henteu nganggur (Tinggal di desa tidak menganggur). Hutan hijau, masyarakat pun sejahtera,” pungkas Asep.***










