KALCERAN.ID — Nilai tukar rupiah mencatatkan sejarah kelam pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi.
Mata uang Rupiah dibuka merosot ke level Rp17.614 per dolar AS. Posisi ini menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Rupiah melemah 84 poin atau terkoreksi 0,48 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra, mengonfirmasi bahwa level ini adalah rekor pelemahan baru.
“Iya, level terendah sepanjang sejarah,” ujar Ariston saat dihubungi.
Menurutnya, pelemahan ini dipicu oleh kombinasi panasnya konflik di Timur Tengah serta tingginya harga minyak dunia.
Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid juga menjadi faktor utama yang menekan rupiah.
Penjualan ritel AS terbaru tercatat naik, sehingga menurunkan peluang Bank Sentral AS (The Fed) untuk memangkas suku bunga.
Kondisi ini membuat investor lebih memilih memegang dolar AS ketimbang mata uang negara berkembang.
Analis pasar uang, Lukman Leong, menyebut kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperparah keadaan.
Pasar saat ini juga tengah mencermati pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump.
Meski belum ada hasil resmi, optimisme terhadap penguatan dolar AS terus meningkat di kalangan investor.
Pelemahan rupiah ternyata tidak terjadi sendirian. Mayoritas mata uang di Asia juga mengalami tekanan serupa pagi ini.
Won Korea Selatan melemah 0,50 persen, diikuti ringgit Malaysia 0,39 persen, dan baht Thailand 0,28 persen.
Bahkan mata uang negara maju seperti euro dan poundsterling Inggris juga terpantau minus di hadapan dolar AS.***










