KALCERAN.ID – Coding tak lagi identik dengan layar komputer dan bahasa pemrograman. Di tangan guru TK, konsep ini justru bisa menjadi permainan untuk membentuk cara berpikir anak agar lebih logis, runtut, dan terbiasa mencari solusi.
Pendekatan tersebut mulai diperkuat di Kabupaten Tasikmalaya. Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) membekali para guru melalui Pelatihan Coding dan Computational Thinking untuk Anak Usia Dini yang Menyenangkan di Islamic Centre, Kamis (24/9/2026).
Ketua IGTKI-PGRI Kabupaten Tasikmalaya N. Lilis Julawati mengatakan, anak usia dini tidak ditargetkan menguasai bahasa pemrograman.
Sebaliknya, coding dikenalkan sebagai cara melatih anak memahami pola, menyusun langkah, mengikuti instruksi, menemukan masalah, hingga mencoba memperbaiki kesalahan.
“Coding dapat menjadi sarana untuk membangun kemampuan berpikir logis, sistematis, kreatif, sekaligus melatih anak dalam memecahkan masalah,” ujar Lilis.
Menariknya, aktivitas tersebut bisa dilakukan tanpa komputer maupun gawai melalui metode unplugged coding.
Guru dapat mengemasnya dalam permainan menyusun urutan, teka-teki, permainan gerak, pengenalan pola, atau aktivitas sederhana yang mengharuskan anak mengambil keputusan dan menemukan jalan keluar.
Dengan cara itu, proses belajar coding tidak berubah menjadi pelajaran pemrograman yang berat. Anak justru diajak terbiasa berpikir tahap demi tahap dan memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses mencari solusi.
“Anak sejak dini tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kebiasaan berpikir runtut, mengenali masalah, mencari solusi, dan mencoba kembali ketika mengalami kesalahan,” katanya.
Lilis menyebut, tantangan berikutnya adalah memastikan guru mampu membawa konsep tersebut ke dalam pembelajaran sehari-hari.
Oleh karena itu, pelatihan diarahkan agar guru tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu merancang aktivitas computational thinking yang sesuai usia anak.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya Wandi Herpiandi mengapresiasi langkah IGTKI-PGRI tersebut.
Wandi yang menjadi keynote speaker menilai peningkatan kompetensi guru harus terus dilakukan seiring perubahan kebutuhan pembelajaran.
“Kegiatan yang digagas IGTKI-PGRI menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan kompetensi guru TK, khususnya dalam menghadapi perkembangan pembelajaran berbasis teknologi,” kata Wandi.
Menurutnya, kolaborasi organisasi profesi dengan Dinas Pendidikan dapat memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi perkembangan teknologi, termasuk memahami penerapan coding dan kecerdasan artifisial pada dunia pendidikan. (Red)









